Debrina’s Blog


Sex bebas? No!
January 29, 2009, 7:44 am
Filed under: Uncategorized

Di tengah maraknya sex bebas, ternyata masih ada juga public figure di Amerika yang nggak mau ikut berkecimpung dalam sex bebas. Mereka adalah Selena Gomez dan Nick Jonas. Kata mereka, mereka akan mempertahankan ‘kehormatan’ mereka sampai mereka menemukan belahan jiwa mereka dan menikahinya. Oleh karena itu, di cincin mereka saat ini telah tersematkan cincin yang melambangkan aksi untuk mempertahankan ‘kehormatan’ ini. Wah, wah. Kita harus mencontoh mereka lho!



Masa ‘sulit’ versi Demi Lovato
January 29, 2009, 4:25 am
Filed under: Uncategorized

Hahaha…. Hai Guys. Pada tahu Demi Lovato apa ndak? Itu lho, cewek yang jadi pemerannya Mitchie di Camp Rock. Sekarang dia udah jadi penyanyi di Amerika. Umurnya kira-kira masih semuran ma aku. Demi itu kelahiran 1992. Eh, ternyata seorang superstar kayak Demi juga pernah dibenci ma temen-temen di sekolahnya lho. Kejadiannya dulu pas dia masih blom jadi penyanyi dan masih tinggal di Texas. Ceritanya, geng cewek populer di sekolahnya itu ndak suka ma Demi. Trus, geng cewek populer ini ngedarin kertas kosong yang udah mereka tanda tangani. Kertas itu dikasih judul : Barang siapa yang membenci Demi, silakan tanda tangan di sini. Alhasil, banyak banget temen-temennya Demi yang tanda tangan. Gara-gara itu, akhirnya Demi memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan milih ikut homeschool. Satu-satunya yang ngebesarin hati Demi adalah her BFF, Selena Gomez.



Pertemuan & Perpisahan
December 29, 2008, 1:48 pm
Filed under: Uncategorized

Pernahkah Engkau pertanyakan

Mengapa setiap insan selalu alami pertemuan dan perpisahan

Dengan pertemuan

Terbukalah pintu gerbang terbentuknya benih cinta ‘tuk dilukiskan

Dan tanpa adanya perpisahan

Kita ‘tak kan pernah menyadari refleksi cinta yg slama ini sering kita rasakan

Dengan adanya pertemuan dan perpisahan

Kita, sesama insan akan saling berbagi cinta

Mungkin perpisahan terasa menyakitkan

Tapi bukankah itu merupakan bagian keindahan dari cinta yang kau rasakan

Mungkin pertemuan merupakan awal perpisahan

Tapi bukankah dengan itu kau bisa rasakan kebahagiaan

Yaitu kebahagiaan atas cinta yang kau bagikan

Kepada sesama insan



17, TUA ATAU DEWASA
December 26, 2008, 1:26 am
Filed under: Uncategorized

Seharusnya malam Minggu adalah hari yang paling membahagiakan bagi para remaja karena mereka bisa hang out bareng pacar, gebetan, atau temen nongkrong mereka tanpa harus terbebani oleh pikiran-pikiran yang menitik beratkan pada tugas-tugas sekolah yang harus mereka kumpulkan. Tapi hal itu tidak berlaku pada Zafiska Danianti karena baginya malam Minggu maupun hari-hari lainnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

Sebagai seorang remaja, Fiska tidak dapat menikmati asyiknya hang out ala remaja di malam Minggu. Tapi setidaknya Fiska masih bisa bersyukur karena dia nggak perlu susah payah memeras segala pengetahuan dalam otaknya untuk membabat habis tugas-tugas sekolah yang harus ia kumpulkan esok harinya karena besok adalah hari libur. Alhasil, seperti beberapa malam Minggu yang telah ia lewati sebelumnya, Fiska harus terdampar di dalam ruang keluarga bersama ibu dan ayahnya.

Namun suasana di ruang keluarga malam ini agak berbeda dengan malam-malam Minggu sebelumnya. Kenyamanan yang biasanya tercipta kini telah digantikan oleh ketegangan yang diciptakan oleh Fiska sendiri.

 “Nggak semua orang yang berusia tujuh belas tahun bisa mengendarai mobil sendiri, termasuk kamu. Maaf, untuk kali ini ibu nggak akan mengabulkan permintaanmu, Fiska! Kamu masih belum cukup dewasa,” ujar ibu menanggapi permintaan Fiska untuk mengendarai mobil sendiri. Fiska mengungkapkan permintaannya dengan alasan bahwa dia sudah cukup umur untuk mendapatkan izin mengemudi kendaraan.

“Iya, lagi pula Kami tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu, Fiska. Emosi seorang remaja masih sangat labil,” ujar ayah.

Fiska sudah bisa menebak apa yang dikatakan oleh kedua orangtuanya. Ia sudah berulang kali mendengar penolakan seperti itu. Tapi entah mengapa, walau telinganya sudah terbiasa mendengarnya, sepertinya ego Fiska tidak bisa membiarkan kalimat yang dilontarkan orangtuanya diserap begitu saja oleh telinganya.

Dengan perasaan yang setengah berapi-api Fiska berkata, “Untuk kali ini ibu nggak akan mengabulkan permintaan Fiska? Apa ibu tidak salah? Bukankah ibu memang selalu menolak permintaan Fiska? Ibu selalu berkata bahwa Fiska belum cukup dewasa. Bu, Fiska sudah tujuh belas tahun! Fiska sudah cukup dewasa untuk dapat menikmati hal-hal yang seharusnya dinikmati oleh remaja. Tapi ibu selalu saja merampas kebebasan Fiska,” Fiska berhenti sejenak.

“Selama ini Fiska selalu menuruti perkataan ibu dan ayah. Fiska juga selalu menjadi juara kelas demi membahagiakan ibu dan ayah. Tapi kenapa sih ibu dan ayah tidak pernah mau mengabulkan permintaan Fiska? Fiska yakin, membeli mobil bukan merupakan hal yang sulit bagi keluarga kita,” lanjut Fiska.

Seakan tidak terhanyut dalam emosi yang disulut oleh Fiska, ibu menatap putri semata wayangnya itu dengan senyuman yang sangat manis. Lalu dengan sabar ibu berkata, “Fiska, ibu minta maaf kalau selama ini kamu merasa bahwa ibu telah merampas semua kebebasanmu. Tapi itu semua ibu lakukan demi kebaikanmu. Kamu memang sudah berumur tujuh belas tahun, Fiska! Tapi usia bukan jaminan untuk mengukur tingkat kedewasaan seseorang. Ibu berjanji, ibu akan mengizinkanmu untuk mengendarai mobilmu sendiri ketika kamu sudah cukup dewasa di mata ibu. Ibu juga akan mengizinkanmu untuk pergi bermalam Minggu ketika kamu sudah cukup dewasa untuk memertahankan prinsip hidupmu sehingga kamu tidak mudah terhanyut dalam pergaulan yang didasari oleh arus globalisasi ini.”

Fiska memandang jengkel orangtuanya. “Huh, kenapa sih mereka selalu tidak mau mengerti aku? Kekhawatiran mereka kepadaku terlalu berlebihan. Seandainya saja mereka tahu betapa malunya diriku ketika teman-teman mengataiku anak rumahan, betapa irinya hatiku ketika melihat teman-teman yang dengan bangga memamerkan mobil baru mereka. Mengapa orangtuaku sama sekali tidak mengerti bahwa kehidupan remaja di zaman sekarang sangat berbeda dengan kehidupan ibu dan ayah saat remaja dulu?” batin Fiska.

Seakan lelah menanti tanggapan selanjutnya dari orangtuanya yang tak kunjung datang, akhirnya Fiska mengambil kesimpulan bahwa keputusan orang tuanya nggak akan berubah. Fiska pun bangkit menuju kamarnya.

 Sesampainya di kamar, Fiska segera berbaring. Dilihatnya jam dinding yang masih menunjukkan pukul 19.32. “Hmm, waktu yang terlalu awal untuk pergi terbang ke alam mimpi. Tapi aku nggak punya cara lain untuk mengobati kejengkelanku selain dengan tidur,” kata Fiska sambil akhirnya ia berusaha memejamkan matanya.

***

Fiska terbangun dari mimpinya yang terasa berjalan begitu lambat. Matanya segera beradaptasi dengan cahaya yang terang. Fiska teringat bahwa semalam ia lupa mematikan lampu kamarnya. Diliriknya jam dinding yang ada di kamarnya. “Masih terlalu dini. Tapi aku sudah kelamaan tidur. Rasanya aku sudah nggak bisa tidur lagi,” ujar Fiska setelah ia tahu bahwa saat ini masih pukul 04.04.

 Tiba-tiba saja adzan subuh berkumandang. Dengan sigap Fiska bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Setelah itu, Fiska menjalankan kewajibannya sebagai muslimah.

Setengah jam kemudian Fiska telah rapi dengan pakaian olahraganya. Dia berniat untuk menghabiskan waktu dengan lari pagi di taman depan kompleks  rumahnya sebelum ia sarapan.

Jalanan pagi ini tampak lengang. Tak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Kanan-kiri jalan dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan kaki, jogging, maupun berolahraga. Selain itu, pemandangan yang dapat disaksikan di sepanjang jalan adalah daun-daun kuning yang jatuh berguguran.

Tiba-tiba Fiska teringat akan percakapannya dengan kedua orangtuanya semalam. Semakin diingat, intensitas kejengkelan Fiska kepada orangtuanya semakin besar pula. “Ya Allah, kenapa sih orangtua Fiska nggak gaul kayak orangtua temen-temen Fiska yang lain? Kenapa sih orangtua Fiska selalu overprotektif? Mereka selalu saja memerlakukan Fiska layaknya anak balita yang selalu dilarang untuk melakukan ini itu. Mereka selalu saja bilang kalau Fiska belum cukup dewasa untuk benar-benar menjalani hidup ini. Padahal Fiska sudah tujuh belas tahun? Emangnya Fiska harus nunggu sampai usia Fiska berapa agar orangtua Fiska mau ngasih kebebasan buat Fiska?” Fiska bergumam dalam hati.

Sedetik kemudian, angin berhembus kencang, sangat kencang sehingga daun-daun kuning yang berserakan di pinggir jalan pun berterbangan. Semakin lama, jumlah daun yang berterbangan semakin bertambah. Dedaunan itu berputar-putar sesuai dengan irama angin yang menyeret mereka. Mereka terus mendekat ke arah Fiska yang sedang berdiri terpaku. Dalam hitungan detik, dedaunan itupun membungkus tubuh Fiska. Lalu dedaunan itu berputar-putar mengelilingi tubuh Fiska selama beberapa detik. Setelah itu, dedaunan itu menghilang begitu saja.

Fiska sempat terpaku pada kejadian yang baru saja dialaminya. Namun, ia tetap saja tidak bisa menangkap apa arti kejadian itu. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Semuanya masih sama persis dengan keadaan sebelum angin kencang itu bertiup. Fiska yakin sekali bahwa dia masih berdiri di tempat yang sama seperti sedetik sebelum angin itu bertiup.

“Ah, mungkin itu hanya kejadian biasa. Sudahlah, lupakan sajalah, Fiska!” ujar Fiska pada dirinya sendiri.

Fiska melanjutkan perjalanannya menuju taman kompleks dengan penuh semangat. Sesekali, ia memraktekkan olahraga ringan dalam perjalanannya seperti jogging atau lari-lari kecil.

Matahari sudah menyembul lebih tinggi ketika Fiska sampai di taman kompleks. Jumlah orang-orang yang memenuhi taman kompleks untuk melakukan berbagai macam aktivitas sudah meningkat. Sebagian besar dari mereka sedang melakukan olahraga ringan, tetapi ada juga beberapa di antara mereka yang sedang menjajakan barang dagangan mereka.

Fiska berjalan mengelilingi taman kompleks. Tiba-tiba saja Fiska berhenti di suatu tempat karena ia melihat seseorang yang dikenalnya. Sudah sejak setahun yang lalu ia tidak pernah berjumpa dengan sosok tersebut. Ia berjalan mendekati sosok yang tak asing tersebut.

“Kakek!” ujar Fiska setelah melihat wajah sosok tersebut dengan dekat. Sejenak ia ragu. “Hm.., bukankah kakek sudah meninggal?” Namun nalurinya menyuruhnya untuk berjalan mendekati sosok yang sedang mengulum senyum di bangku taman. “Duduk di sini, Cucuku!” ujar kakek sambil memersilakan Fiska untuk duduk di sebelahnya. Setelah Fiska duduk di sebelahnya, kakek berkata, “Apa gerangan yang telah terjadi, Cucuku Sayang?”

Sejak masih hidup hingga saat ini kakek selalu saja tahu jika ada sesuatu yang terjadi pada Fiska. Fiska lega karena ia telah menemukan seseorang untuk berbagi. Oleh karena itu, Fiska segera menceritakan semua keluhannya kepada almarhumah kakeknya yang kini telah duduk di sampingnya.

Kakek hanya mengulum senyum manisnya ketika Fiska selesai menceritakan keluhannya. Namun kakek tak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun.

“Fiska jadi ingin tahu bagaimana kehidupan ibu waktu remaja. Bagaimanapun juga dulu ibu termasuk socialite sebelum menikah dengan ayah. Teman-teman ibu pasti berasal dari berbagai kalangan ‘bangsawan’ di Indonesia. Pasti kehidupan ibu sangat glamour. Fiska yakin, ibu pasti bisa menikmati masa-masa remajanya yang bebas,” ujar Fiska sambil menerawang ke atas awan.

“Kakek, kadang-kadang Fiska jadi ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Hadyan Atmaja seperti ibu waktu remaja dulu,” lanjut Fiska.

Memang, ibu Fiska dulunya adalah seorang Hadyan Atmaja. Namun, semenjak ibu Fiska menikah dengan ayah Fiska yang ‘rakyat jelata’, nama keluarga besar Hadyan Atmaja dihapus dari nama belakang ibu Fiska. Alhasil, kini di belakang nama Fiska pun tidak tertulis nama keluarga besar itu.

Kakek menatap Fiska yang kini sedang diam menanti tanggapan dari almarhum kakeknya itu. Akhirnya kakek mengeluarkan pendapatnya.

“Fiska, mungkin cara ibu dan ayahmu dalam mendidikmu agak berbeda dengan cara kakek dalam mendidik ibumu,” ujar kakek. Beliau berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

Kakek mengangkat kepalanya ke atas. Dipandanginya hamparan langit biru yang dipenuhi oleh awan-awan. Lalu beliau mulai menerawang, mengingat-ingat masa-masa yang pernah beliau lewati bersama putri kecilnya, “Hm, hidup ibumu dulu memang jauh berbeda dengan hidupmu. Semasa muda, ibumu seperti nona yang hidupnya sangat glamor. Menurut kakek, Angsukma memang termasuk anak yang manja. Mungkin itu semua disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang kakek berikan kepada ibumu. Namun setelah ibumu bertemu dengan ayahmu, dia berubah menjadi dewasa. Mungkin ibumu bisa merasakan perubahan dalam hidupnya. Angsukma bisa lebih tahu tentang hidup yang sebenarnya. Dia belajar banyak tentang pelajaran kehidupan yang selama ini tak pernah ibumu dapatkan ketika dia menjadi putri Hadyan Atmaja. Mungkin karena itu ibumu ingin kamu mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Angsukma tidak ingin kamu merasakan segala kemudahan seperti yang ia dapatkan dulu karena menurutnya hal itu tidak mendidik sama sekali,” lanjut kakek.

“Menjadi dewasa ya, Kek? Ibu selalu berkata bahwa ibu akan memberikan kebebasan kepadaku untuk melakukan apa yang aku inginkan ketika Fiska dewasa. Tapi sekarang Fiska kan sudah berumur tujuh belas tahun, Kek! KTP aja sudah ada di tangan Fiska. Berarti negara juga sudah mengakui bahwa Fiska sudah dewasa. Tapi mengapa ibu menganggap bahwa Fiska masih belum dewasa? Memangnya Fiska harus menunggu sampai usia Fiska berapa agar ibu mengakui bahwa Fiska sudah dewasa?” kata Fiska.

Kali ini kakek memandangi Fiska sambil membelai rambut cucunya.

“Fiska, Fiska! Kamu mirip sekali dengan ibumu ketika masih remaja. Waktu itu ibumu juga ngambek gara-gara kakek nggak ngajak ibumu jalan-jalan ke luar negeri. Kalian berdua memang mirip,” kata kakek.

Fiska terdiam. “Apakah kakek hendak mengatakan bahwa Fiska sama tidak dewasanya dengan ibu ketika masih remaja?” batin Fiska.

“Kakek ingin Fiska tahu bahwa dewasa dengan tua itu berbeda. Dewasa yang dimaksud ibumu itu adalah dewasa secara mental. Namun dewasa yang kamu maksud adalah dewasa secara fisik. Keduanya berbeda, Fiska! Setiap orang memang bisa mengalami kedewasaan secara fisik. Dengan kata lain, setiap orang bisa tua. Namun dewasa secara mental merupakan pilihan,” ujar kakek.

Fiska memandang kakeknya sambil melempar pandangan penuh tanya. “Maksud kakek?” Fiska berkata.

“Maksud kakek, setiap orang bisa bertambah umurnya. Oleh karena itu setiap orang pasti mengalami kedewasaan secara fisik, setiap orang pasti bisa menjadi tua. Namun hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengalami kedewasaan secara mental. Mereka adalah orang-orang yang telah merasakan berbagai macam asam manis kehidupan. Mereka mengambil hikmah dari setiap pelajaran kehidupan yang mereka dapatkan. Dengan begitu mereka bisa menjadi dewasa,” kata kakek sambil menarik napas untuk melanjutkan nasehatnya yang berikutnya.

“Belum tentu orang yang berumur dua puluh tahun ke atas juga memiliki kedewasaan. Namun tidak menutup kemungkinan anak yang berumur empat belas tahun sudah memiliki kedewasaan itu. Itu semua tergantung pada pilihan seorang individu, apakah dia mau menjadi dewasa atau tidak. Coba kamu tanyakan pada dirimu, apakah kamu mau ragamu semakin tua dan usiamu semakin bertamabah sementara kamu masih belum menjadi ‘dewasa’?” kata kakek seraya mengulum senyum manisnya untuk yang terakhir kali.

Fiska terdiam, ia merenungi semua perkataan kakek. Beberapa detik kemudian, wajah yang sebelumnya melukiskan emosi yang meluap-luap itu tampak kembali sumringah.

Rupanya cucunya kini telah memahami salah satu pelajaran kehidupan. Kakek puas sekali akan hal itu. Tugasnya kini telah selesai. Kakek memandangi langit biru yang berselimutkan awan-awan. Sedetik kemudian, awan-awan itu berkumpul ke tengah dan berputar-putar membentuk suatu pusaran awan sehingga di tengahnya muncul sebuah lorong. Tiba-tiba kakek tersedot ke dalam lorong yang dibentuk oleh awan itu.

Bersamaan dengan hal tersebut, angin berhembus kencang sekali lagi sehingga daun-daun kuning yang berserakan di atas rumput berterbangan. Semakin lama, jumlah daun yang berterbangan semakin bertambah. Dedaunan itu berputar-putar sesuai dengan irama angin yang menyeret mereka. Mereka terus mendekat ke arah Fiska yang sedang duduk di bangku taman. Dalam hitungan detik, dedaunan itu membungkus tubuh Fiska. Lalu dedaunan itu berputar-putar mengelilingi tubuh Fiska selama beberapa detik. Setelah itu, dedaunan itu menghilang begitu saja.

Kini Fiska telah berdiri di jalan menuju taman, tempat di mana ia berdiri sebelum angin kencang menerbangkan dedaunan untuk pertama kalinya. Dilihatnya keadaan di sekeliling. Semuanya masih sama persis! Tak ada yang berubah.

Fiska bingung dengan semua yang telah terjadi padanya dalam waktu lima belas menit ini. Dengan cepat, semua kejadian yang ia alami berputar dalam memori otaknya.

Kini Fiska mengerti bahwa selama lima belas menit ia telah terseret dalam dimensi lain dalam waktu. Di sanalah ia bertemu dengan almarhumah kakeknya. Kakek menyampaikan satu pelajaran kepadanya. Setelah pelajaran itu usai disampaikan, Fiska kembali terseret dalam dimensi di mana ia seharusnya berada.

“Hm, Tuhan! Maafkan Fiska selama ini. Kini Fiska tahu apa makna dewasa yang sesungguhnya,” ujar Fiska dalam hati.

Sebuah senyuman terukir pada bibir Fiska. Lalu dengan semangat ia melangkah menuju rumahnya. Fiska mengurungkan niatnya untuk berolahraga. Kini, ia ingin segera tiba di rumah dan berjumpa dengan kedua orangtuanya. Ia ingin segera meminta maaf atas segala kelakuannya yang kekanak-kanakan.

“Tuhan, Fiska janji. Fiska akan berusaha untuk menjadi lebih dewasa. Fiska ingin ibu dan ayah bangga kepada Fiska. Fiska tidak ingin mengecewakan mereka, Tuhan!” ujar Fiska.

 

 



Hello world!
December 26, 2008, 1:19 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.